Sejarah Desa

not image

Penamaan Desa Lung Sulit diambil dari kata Lung yang berarti muara dan Sulit yang merupakan nama sungai. Pemberian nama desa tidak terlepas dari asal usul pertama lokasi pemukiman yang berada di sekitar muara Sungai Sulit. Pada zaman sebelum kemerdekaan, pola pemukiman memliki letak yang terpisah antara satu dengan lain. Umumnya pola pemukiman ini berkelompok berdasarkan keluarga ataupun kekerabatan.

Kampung-kampung Lung Sulit tersebar di beberapa titik seperti terletak di atas bukit. Hal ini merupakan bagian dari strategi untuk menghadapi ancaman musuh yang berniat melakukan perang atau mengayau. Letak pemukiman yang berpencar bertujuan untuk meminimalisir jumlah korban ketika musuh datang. Sebaliknya, ketika hendak menyerang balik, pemukiman yang tersebar di sekitar akan mengepung musuh agar mereka tidak bisa meloloskan diri.

Sebagai tanda bahaya, masyarakat pada zaman dahulu menggunakan gong untuk berkomunikasi. Bunyi pukulan gong menjadi sinyal dalam keadaan tertentu, misalnya pukulan cepat tanpa jeda merupakan tanda adanya bahaya, sementara pukulan dengan tempo lambat menandakan adanya orang yang meninggal. Penggunaan gong sebagai media komunikasi karena dapat memancarkan suara yang dapat terdengar dari jauh, terutama di daerah perbukitan.

Pemukiman di Lung Sulit juga beberapa kali mengalami perpindahan. Dari cerita sejarah yang didapatkan, pada zaman kepemimpinan Laya’ Agung sebagai Kepala Suku lokasi berada di Lung Sulit. Kemudian perpindahan penduduk beberapa kali terjadi pada zaman Fuding Laya’ yang menjabat sebagai kepala desa pertama. Perpindahan penduduk terjadi mulai dari Lung Badai hingga Fatar Kelabi (lokasi desa sekarang). Pada zaman kepemimpinan Fuding Laya’ juga terjadi perpindahan penduduk ke hilir (Singai Terang). Perpindahan penduduk atau transmigrasi lokal ini terjadi pada tahun 1980-an yang diinisiasi oleh pemerintah. Alasan perpindahan tersebut karena sulitnya akses menuju desa-desa yang berada di Mentarang Hulu serta untuk mempermudah masyarakat untuk mendapatkan fasilitas seperti pendidikan dan kesehatan.

Fuding Laya’ meninggal pada tahun 1987, setelah itu jabatan kepala desa digantikan sementara oleh Buing Udan selama 6 bulan. Buing Udan merupakan seorang pendeta yang berasal dari Pulau Sapi. Selepas kepemimpinan Buing Udan, jabatan kepala desa silih berganti pada beberapa orang, antara lain Sawen Ruit selama 1 tahun, Yaran Agung, dan Thomas Sukung.

Meskipun administrasi desa berada di Singai Terang, beberapa keluarga memilih menetap di Lung Sulit (hulu), seperti keluarga Panus Labo, Bias Aran, dan Bernadus Labo. Beberapa keluarga ini tinggal dan menetap di Lung Sulit untuk mempertahankan tanah yang sudah turun-temurun diwariskan oleh orang tua. Pada Juli 2005, Panus Labo terpilih menjadi kepala desa. Pada zaman kepemimpinannya ini, Lung Sulit kembali pindah ke hulu setelah 18 tahun lamanya berada di Singai Terang. Setelah kembali ke hulu, sudah terjadi 2 kali pergantian kepala desa, yaitu Wiliam Bias dan Tinus Labo yang menjabat saat ini.

 

Sumber : Panus Labo dan Kusnadi Bias

Bagikan post ini: