Bentuk Syukur: Pesta Panen Padi (ULUTUAIAN) Desa Lung Sulit
Panen padi adalah tahap akhir budidaya untuk mengambil hasil gabah dengan tingkat kematangan optimal (95% menguning) agar hasil maksimal, biasanya 110-136 hari setelah tanam. Panen padi adalah pemungutan atau pemetikan hasil tanaman padi baik yang ada pada lahan sawah maupun yang ada pada lahan kering. Pemanenan yang tepat waktu dan benar dapat mencegah kehilangan hasil yang meliputi proses memotong, merontokkan, dan pengeringan.
Tradisi panen padi merupakan wujud syukur dan penghormatan
leluhur, seperti tradisi Wiwitan di Jawa, Seren Taun di Sunda, dan Gawai Dayak
di Kalimantan. Ritual ini umumnya
melibatkan doa bersama, makan bersama dan simbolis pemotongan padi pertama.
Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan spiritualitas yang masih dilestari
sampai saat ini. Tradisi ini juga masih dilakukan didesa ataupun masyarakat
yang ada di Lung Sulit yang biasa disebut “ULUTUAIAN”
dalam bahasa daerah (Lundayeh) yang
artinya pengambilan hasil panen padi pertama dan nantinya didoakan digereja.
Tradisi pesta panen padi ini adalah bentuk rasa syukur kepada
Tuhan yang Maha Kuasa atas hasil panen yang melimpah. Pesta panen ini merupakan
bagian dari kearifan lokal yang telah lama menjadi tradisi masyarakat setempat.
Tradisi ini menandai berakhirnya musim panen padi sekaligus mempererat
kebersamaan antarwarga. Dalam pesta panen ini masyarakat masing-masing membawa
makanan hasil panennya ke gedung BPU dan nantinya dinikmati bersama-sama dengan
warga setempat.