Bentuk Syukur: Pesta Panen Padi (ULUTUAIAN) Desa Lung Sulit

1776600449838.jpg

Panen padi adalah tahap akhir budidaya untuk mengambil hasil gabah dengan tingkat kematangan optimal (95% menguning) agar hasil maksimal, biasanya 110-136 hari setelah tanam. Panen padi adalah pemungutan atau pemetikan hasil tanaman padi baik yang ada pada lahan sawah maupun yang ada pada lahan kering. Pemanenan yang tepat waktu dan benar dapat mencegah kehilangan hasil yang meliputi proses memotong, merontokkan, dan pengeringan.

Tradisi panen padi merupakan wujud syukur dan penghormatan leluhur, seperti tradisi Wiwitan di Jawa, Seren Taun di Sunda, dan Gawai Dayak di Kalimantan. Ritual ini umumnya melibatkan doa bersama, makan bersama dan simbolis pemotongan padi pertama. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan spiritualitas yang masih dilestari sampai saat ini. Tradisi ini juga masih dilakukan didesa ataupun masyarakat yang ada di Lung Sulit yang biasa disebut “ULUTUAIAN” dalam bahasa daerah (Lundayeh) yang artinya pengambilan hasil panen padi pertama dan nantinya didoakan digereja.

Tradisi pesta panen padi ini adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas hasil panen yang melimpah. Pesta panen ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang telah lama menjadi tradisi masyarakat setempat. Tradisi ini menandai berakhirnya musim panen padi sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga. Dalam pesta panen ini masyarakat masing-masing membawa makanan hasil panennya ke gedung BPU dan nantinya dinikmati bersama-sama dengan warga setempat.

Bagikan post ini: